![]()
Mockingjay
Suzanne Collins
Petualangan, Fantasi, Teens
ISBN: 978-979-22-7843-9
...

Bayangan perpustakaan yang asyik di benak saya, barangkali mirip seperti yang ada di novel Kafka on the Shore, Haruki...
John Green, The Fault in Our Stars
(via epicjohngreenquotes)
(via quote-book)
Membandingkan film yang diangkat dari sebuah buku yang merupakan mahakarya jelas kalau dicari-cari akan kita temukan kelemahan dan kelebihannya. “The Hunger Games“, kini sudah masuk jajaran film yang memiliki penggemar sendiri sebagaimana “The Lord of the Rings” dan “Harry Potter”. Jadi daripada saya membanding-bandingkan, saya akan coba menarik kesimpulan tentang film “The Hunger Games” yang diangkat dari buku 1 trilogi karya Suzanne Collins ini.
Dalam film “The Hunger Games” yang secara keseluruhan saya beri nilai 8,5, nilai tertinggi jelas jatuh pada Jennifer Lawrence. Dialah Katniss Everdeen sejati di layar lebar. Setiap kali dia bergerak, mata penonton selalu mengikuti. Saat dia mengajukan diri menjadi relawan menggantikan adiknya, Primn dalam Pemungutan, penonton langsung jatuh simpati. “Winter’s Bone”–film yang mengangkat nama Jennifer Lawrence ke nominasi Oscar–membuktikan bahwa gadis ini memang bisa berakting, bukan sekadar kebetulan.
Untuk Josh Hutcherson dan Liam Hemsworth yang berperan sebagai Peeta dan Gale… Hmm. Saya adalah penggemar Joss sejak dia masih aktor cilik di “Zathura”. Juga film terakhir Josh, “The Kids Are All Right”, bikin saya pengin ngacak-ngacak rambutnya. Walau saya tidak suka Liam karena menurut saya dia cuma modal ganteng, tapi setelah melihat penampilan keduanya di layar, saya menganggap mereka pilihan tepat berperan dalam film ini. Josh memiliki karakter cowok lembut baik hati sebagai Peeta dan Liam sebagai cowok keras yang memendam luka sebagai Gale.
Film juga mengangkat sesuatu yang penting dari buku, sesuatu yang tak bisa kita lihat dari buku yang ditulis dari sudut pandang orang pertama, yaitu Katniss. Di sini kita melihat sudut pandang bergerak tidak hanya dari Katniss Everdeen, tapi dari beragam sisi bahkan dari Presiden Snow, sang antagonis. Inilah satu hal yang digarap apik oleh trio penulis skenario, yang kebetulan salah satunya adalah Suzanne Collins, sang novelis.
Sutradara Gary Ross sendiri dengan piawai menampilkan adegan sadis pembantaian di Cornucopia dengan kamera yang bergerak cepat sehingga remaja-remaja yang saling membunuh di awal pertarungan pun tidak memberi kesan berdarah-darah dan keji. Inilah satu yang juga saya sukai dari film ini. Walau bentuk Cornucopia-nya kelihatan murahan, tapi adegan di sana dibuat dengan apik.
Terakhir, soundtrack. Taylor Swift and The Civil Wars sukses “memindahkan” film dalam bentuk lagu “Safe and Sound”. Lagu ini menyayat dan bernuansa Distrik 12. Perfect. Dua nama top lain macam Miranda Lambert dan Maroon 5 juga jadi pilihan tepat untuk membuat OST “The Hunger Games” terkesan Amerika Utara pada era dystopia.
Puaskah saya dengan film “The Hunger Games”? Tentu. Apakah ini film yang sempurna mengadaptasi bukunya? Jelas tidak. Tapi film ini merupakan satu karya seni utuh terpisah dari buku, karena film “The Hunger Games” memiliki struktur cerita sendiri dalam membentuk dasar film berikutnya dari buku kedua trilogi ini. Dan tentunya saya tidak sabar menantikan film “Catching Fire” tahun 2013.
Film: The Hunger Games
Sutradara: Gary Ross
Produser: Nina Jacobson, Jon, Kilik
Pemeran Utama: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Stanley Tucci
Penulis Skenario: Gary Ross, Suzanne Collins, Billy Ray
Musik: James Newton Howard
Durasi: 142 menit
Tahun: 2012
Produksi: Lionsgate
Sumber: http://hungergamesina.wordpress.com
@hetihrusli, 2012

Banyak orang yang menggerutukan kesadisan yang diangkat dalam The Hunger Games. Tentang anak-anak usia 12-18 tahun yang dipilih ikut pertarungan sampai mati. Lalu sang pemenang akan menjadi pahlawan yang membuat distrik tempat tinggalnya hidup bergelimang makanan selama satu tahun. Atau mereka yang merasa sok original menganggap The Hunger Games hanyalah “jiplakan” Battle Royale, buku dan film dari Jepang dengan anak-anak SMP yang dikumpulkan di pulau dan disuruh bertarung sampai mati.
Padahal pertarungan itu sendiri bukanlah esensi utama The Hunger Games. Esensi utama The Hunger Games adalah tentang kemanusiaan. Tentang efek perang dan politik. Tentang bagaimana kau tetap mempertahankan sisi kemanusiaanmu di tengah kekejaman perang dan busuknya dunia politik.
Alkisah, Katniss Everdeen, Peeta Mellark, dua remaja perempuan dan lelaki dari terpilih mewakili Distrik 12 dari negara Panem dalam Hunger Games ke-74. Dua remaja ini kemudian berakhir menjadi ikon revolusi perlawanan terhadap rezim Presiden Snow yang memimpin negara dari Capitol.
Amerika Serikat termasuk negara yang sering berperang, kadang sosok heroiknya sebagai pahlawan segala bangsa mengharuskan Amerika Serikat untuk terjun ke perang membela apa pun yang sepertinya jadi musuh. Sejak perang terhadap terorisme tahun 2001, sehabis peristiwa 9/11 masyarakat Amerika juga dihadapkan pada satu kehidupan yang dekat dengan kekerasan perang dalam tayangan berita mereka. Hingga berita perang pun menjadi hiburan tersendiri di layar televisi.
Kegelisahan Suzanne Collins terhadap kondisi politik Amerika Serikat diproyeksikannya dalam The Hunger Games, anak-anak belasan tahun dipilih dan diadu dalam acara reality show terakbar yang ditayangkan langsung di televisi. Dari 12 distrik, 24 anak lelaki dan perempuan dibuat bertarung sampai mati hingga terdapat 1 orang pemenang. Dan distrik yang menang akan mendapat limpahan makanan dan hidup yang lebih baik selama setahun ke depan. Sementara masyarakat di 12 distrik hidup sengsara, mereka yang tinggal di Capitol, alias ibu kota negara, hidup bergelimang kemewahan, berkat hasil produksi distrik-distrik, (hm, jadi ingat negara tempat tinggal kita ini).
“Anak lelaki dari Distrik 1 tewas sebelum dia menarik tombaknya,” demikian awal bab 18 The Hunger Games dimulai. “Anak panahku langsung menghunjam tepat di bagian tengah lehernya.” Suzanne Colins tidak setengah-setengah menjabarkan adegan pembunuhan yang dilakukan sang tokoh utama… Katniss Everdeen—yang ditinggal mati ayahnya lalu harus berjuang menghidupi adik dan ibunya dalam The Hunger Games. Novel ini adalah alegori kehidupan remaja kelas menengah di Amerika Serikat, dalam dunia distopia yang penuh dengan duka dan rasa takut.
Apa yang lebih mengerikan dari rasa takut? Harapan. Hunger Games memberi harapan, juga menjatuhkan mental rakyat Panem. Setiap tahun keluarga-keluarga di 12 distrik dirundung kengerian dan harapan. Ngeri membayangkan salah satu anak mereka akan dijagal dalam Hunger Games, namun ada harapan bahwa distrik mereka bisa saja menang dan mereka memiliki harapan untuk hidup lebih baik setahun ke depannya.
Pemerintah Indonesia sering menggunakan rasa takut sebagai ancaman juga hadir sebagai penyelamat. Ingat zaman Orba, ketika kita dibuat takut dengan ide komunisme. Setiap tahun pada 30 September kita diingatkan akan kekejian komunis lewat film Pengkhianatan G30S/PKI dengan akhir film kemudian sosok Soeharto muncul sebagai pahlawan penyelamat negara. Itulah yang dilakukan Presiden Snow dalam The Hunger Games. Dia melibas habis lawan-lawan politiknya dan menjadikan dirinya sebagai pahlawan, membuat takut juga memberi harapan pada distrik-distrik di negaranya.
Katniss Everdeen bukanlah pahlawan. Dia cuma hadir di saat yang tepat ketika Panem membutuhkan ikon revolusi. Ikon yang juga pion. Sebagaimana ucapan Peeta, “Aku ingin menunjukkan pada Capitol mereka tidak memilikiku. Aku bukan sekadar pion dalam Hunger Games ini.” (hal 158, The Hunger Games). Dan itulah yang dilakukan kedua remaja ini… berusaha selamat dari Hunger Games tanpa melupakan sisi kemanusiaan mereka dengan menjadi pion dalam permainan politik.
Perang, apa pun alasan dan bentuknya, menghasilkan korban. Itu sebabnya Suzanne Collins tak mau mengubah cerita di Mockingjay meskipun dia tahu keputusannya membunuh salah satu tokoh akan membuat banyak orang kecewa. Karena sekali lagi, The Hunger Games adalah tentang esensi kemanusiaan dalam kekejian perang dan kotornya dunia politik. Dan terutama, kita perlu belajar dari kematian sebagai pengingat tujuan kita sebagai manusia dalam hidup ini.
@hetihrusli, 2012